Posted on 2/24/2011 07:23:00 PM by Ugie.blogspot.com
Pedagang Pasar Belawan sedang berjualan di atas rel kereta (Foto: Adela Eka/okezone)
Jika para pedagang sayur Pasar Terapung Muara Kuin di Sungai Barito, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menjajakan dagangannya di atas perahu, maka lain lagi dengan inang-inang (ibu-ibu) di Pasar Belawan, Medan, Sumatera Utara. Mereka malah melakukan transaksi jual-beli di atas rel kereta api.
Jika kereta api barang datang dari Medan, mereka terpaksa menghentikan aktivitasnya sejenak menunggu belasan gerbong kereta api itu melintas di antara berbagai dagangan.
Penulis pun melakukan penelusuran, ternyata para pedagang yang umumnya berjualan sayur ternyata telah menggelar barang dagangannya sejak pukul empat dini hari.
Dinginnya angin pagi ternyata tidak mampu menghalangi langkah mereka untuk mencari sejumlah uang demi menghidupi keluarga. Pasar Pagi Belawan ini pun mulai hiruk pikuk dengan suara mamak-mamak (ibu-ibu) yang sibuk tawar menawar, hingga pukul 10.00 WIB pagi.
"Sudah biasa jadi tidak takut lagi. Kami kan cari makan, kami malah takut kalau tidak bisa makan," pungkas Bik Iyah, salah seorang pedagang saat ditanya penulis.
Perempuan setengah baya itu mengaku selama ini belum pernah terjadi kecelakaan atas perlintasan ini. "Kita pasti waspada. Kalau kereta api lewat, kita minggir dulu kan terdengar bunyinya," tambahnya.
Lokasi pasar ini memang tak lazim. Berada di pinggir dan di antara dua jalur kereta api barang, lebarnya tidak lebih dari dua meter. Bahkan sebagian pedagang juga menaroh dagangan mereka di atas rel kereta api tersebut.
Mungkin bagi kebanyakan orang, apa yang dilakukan oleh para pedagang itu sangat mengerikan. Karena, hampir setiap jam lintasan tersebut dilalui oleh kereta api dari Medan.
"Kalau sayuran saya yang berada di atas rel kereta api itu dibiarkan saja. Karena berada di bawah waktu kereta api lewat. Jadi tidak terlindas sama sekali," ucap Bik Iyah lagi sembari tersenyum.
Bik Iyah dan sekitar 20-an pedagang lainnya itu memang nekat berjualan di jalur rel kereta api. Mereka melakukan hal tersebut demi mendapatkan sesuap nasi dan memenuhi kebutuhan hidup.
Seperti Lamria boru Siringo-ringo (38), pedagang sayur lainnya. Ia harus menghidupi anak-anaknya yang berjumlah enam orang. Lima di antaranya masih sekolah.
“Baru satu orang yang sudah selesai, sekolahnya di swasta pula. Satu orang bisa sampai ratusan ribu uang sekolahnya. Inilah yang harus dicarikan," tutur Lamria dengan logat Batak-nya.
Sedangkan suaminya sama sekali tidak memiliki pekerjaan tetap, sesekali hanya menarik ojek untuk menambah pendapatan keluarga. Makanya, perempuan yang sudah 10 tahun berjualan sayur dan monza (pakaian bekas) itu sangat mementingkan pendidikan anak-anaknya. Dia tidak mau anak-anaknya kelak seperti nasibnya.
Lamria berharap anak-anaknya bisa sukses dengan pendidikan yang tinggi. Untuk itu, dia dan suami bekerja keras sejak pukul 04.00 dinihari ketika dagangannya sudah mulai terhampar di pinggir rel kereta api.
Kemudian sore hari, dia bersama suami juga berjualan pakaian monza di samping lapak dagangan sayurnya. Semuanya demi menyekolahkan anak-anaknya hingga sukses.(kem)
0 komentar:
Posting Komentar